Mengapa Kita Sering Merasa Tertinggal dari Orang Lain?

Mengapa Kita Sering Merasa Tertinggal dari Orang Lain?

Pernahkah kita merasa bahwa kehidupan orang lain berjalan jauh lebih baik dibandingkan kehidupan sendiri?

Melihat teman sebaya sudah menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, membangun bisnis, atau bahkan memiliki kehidupan yang terlihat mapan, sementara kita masih berusaha mencari arah dan menentukan langkah berikutnya.

Tanpa disadari, keadaan tersebut sering menimbulkan perasaan bahwa diri sendiri sedang tertinggal.

Perasaan seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi. Ada kalanya kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan.

Di sisi lain, kita melihat orang lain seolah-olah berhasil mencapai berbagai hal dalam waktu yang lebih cepat.

Akhirnya, muncul pertanyaan dalam diri sendiri, apakah kita kurang berusaha, salah mengambil keputusan, atau memang belum cukup mampu untuk mencapai apa yang diinginkan?

Perasaan tertinggal sering kali tidak muncul karena kita benar-benar mengalami kegagalan. Justru, perasaan tersebut dapat muncul ketika kita terlalu sering melihat dan membandingkan kehidupan sendiri dengan pencapaian orang lain.

Terlebih di era digital seperti sekarang, berbagai informasi mengenai kehidupan seseorang dapat dengan mudah ditemukan melalui media sosial.

Namun, mengapa kebiasaan tersebut bisa membuat kita merasa kurang puas dengan kehidupan sendiri? Bagaimana cara menyikapinya agar tidak terus-menerus menjadi beban pikiran?

Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu alasan seseorang sering merasa tertinggal adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, membandingkan diri sebenarnya merupakan hal yang cukup alami.

Kita sering melihat pencapaian orang lain sebagai bahan untuk menilai kemampuan, keberhasilan, bahkan perkembangan diri sendiri.

Menurut Leon Festinger (1954), melalui teori Social Comparison Theory, manusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi kemampuan dan pendapatnya dengan membandingkan diri terhadap orang lain.

Perbandingan tersebut dapat membantu seseorang memahami posisinya dalam lingkungan sosial.

Namun, kebiasaan ini dapat menjadi masalah ketika dilakukan secara berlebihan. Misalnya, seseorang yang sebelumnya merasa bangga karena berhasil menyelesaikan pendidikan kuliah tiba-tiba merasa kurang berhasil setelah mengetahui bahwa teman-temannya sudah mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tinggi.

Padahal, keberhasilan yang telah dicapai tetap merupakan sesuatu yang berharga. Hanya saja, perhatian mulai beralih dari pencapaian diri sendiri menuju pencapaian orang lain.

Hal inilah yang sering membuat seseorang sulit merasa puas. Selalu ada orang yang terlihat lebih sukses, lebih cepat berkembang, atau memiliki kehidupan yang dianggap lebih baik.

Jika terus dijadikan pembanding, kita akan kesulitan menghargai apa yang sebenarnya sudah dimiliki.

Pengaruh Media Sosial terhadap Cara Kita Memandang Kehidupan

Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial turut memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan. Setiap hari, kita dapat melihat berbagai pencapaian orang lain hanya melalui layar ponsel.

Mulai dari keberhasilan dalam pendidikan, pekerjaan, hubungan percintaan, hingga gaya hidup yang terlihat menyenangkan.

Pada awalnya, melihat hal-hal tersebut mungkin hanya menimbulkan rasa kagum. Namun, jika terlalu sering terpapar kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, bukan tidak mungkin kita mulai mempertanyakan kehidupan sendiri.

Kita mungkin merasa bahwa orang lain selalu memiliki sesuatu yang lebih baik. Ada yang sudah mencapai impiannya, sementara kita masih berusaha menyelesaikan berbagai persoalan yang belum selesai.

Fenomena ini berkaitan dengan istilah Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau aktivitas menyenangkan yang sedang dialami orang lain. Przybylski dan rekan-rekannya (2013) menjelaskan bahwa FoMO berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk tetap terhubung dengan pengalaman sosial orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti perkembangan lingkungan sekitarnya. Bahkan, terkadang muncul perasaan tidak nyaman ketika mengetahui orang lain sedang menikmati pengalaman yang belum pernah dirasakan.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Kita mungkin melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui proses, kegagalan, dan berbagai kesulitan yang pernah dihadapi.

Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa kehidupan yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian dari kenyataan, bukan gambaran lengkap tentang kehidupan seseorang.

Tekanan Lingkungan dan Standar Kesuksesan

Selain kebiasaan membandingkan diri dan pengaruh media sosial, tekanan dari lingkungan juga dapat menjadi penyebab seseorang merasa tertinggal.

Dalam masyarakat, sering kali terdapat anggapan bahwa seseorang harus mencapai hal-hal tertentu pada usia tertentu. Misalnya, harus lulus kuliah tepat waktu, segera mendapatkan pekerjaan setelah wisuda, memiliki penghasilan tetap, menikah, dan mencapai kestabilan finansial sebelum usia tertentu.

Standar tersebut terkadang membuat seseorang merasa memiliki kewajiban untuk menjalani kehidupan sesuai dengan harapan orang lain.

Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai dengan standar tersebut, muncul perasaan bahwa dirinya belum berhasil. Terlebih jika lingkungan sekitar sering memberikan pertanyaan atau komentar mengenai pencapaian yang belum dimiliki.

Misalnya, pertanyaan mengenai pekerjaan setelah lulus kuliah atau kapan seseorang akan menikah. Meskipun terkadang hanya dimaksudkan sebagai bentuk perhatian, pertanyaan semacam itu dapat menimbulkan tekanan bagi seseorang yang sedang berusaha membangun kehidupannya.

Padahal, setiap individu memiliki kondisi dan kesempatan yang berbeda. Ada yang memiliki dukungan finansial cukup, ada yang harus bekerja sambil melanjutkan pendidikan, dan ada pula yang memiliki tanggung jawab keluarga sehingga membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai tujuannya.

Dengan demikian, keberhasilan seseorang tidak seharusnya diukur menggunakan standar yang sama. Apa yang menjadi pencapaian bagi satu orang belum tentu menjadi ukuran keberhasilan bagi orang lain.

Dampak Perasaan Tertinggal terhadap Kondisi Psikologis

Merasa tertinggal sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, jika perasaan tersebut terus muncul dan tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Salah satu dampak yang sering terjadi adalah menurunnya rasa percaya diri. Ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, ia cenderung lebih mudah melihat kekurangan daripada kelebihan yang dimiliki. Akibatnya, pencapaian yang sebelumnya dianggap berarti mulai terasa tidak cukup.

Selain itu, perasaan tertinggal juga dapat menimbulkan kecemasan terhadap masa depan. Seseorang mungkin terus memikirkan apa yang belum berhasil dicapai, takut tidak mampu memenuhi harapan, atau khawatir akan semakin jauh tertinggal dari teman-teman seusianya.

Kondisi tersebut juga dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menikmati proses kehidupan. Fokus yang terlalu besar terhadap hasil akhir membuat berbagai usaha kecil terasa tidak berarti. Padahal, perkembangan diri tidak selalu ditandai dengan pencapaian besar yang dapat dilihat oleh orang lain.

Dalam beberapa keadaan, perasaan tertinggal bahkan dapat membuat seseorang kehilangan motivasi. Ketika melihat orang lain berhasil lebih cepat, ia mungkin mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri dan merasa bahwa usaha yang dilakukan tidak akan memberikan hasil.

Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri tidak hanya memengaruhi cara seseorang melihat pencapaian orang lain, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Setiap Orang Memiliki Waktu dan Proses yang Berbeda

Salah satu hal yang sering terlupakan ketika merasa tertinggal adalah kenyataan bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Ada seseorang yang berhasil mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Ada yang sudah mencapai kestabilan finansial pada usia muda, sementara yang lain masih berusaha membangun kehidupannya dari awal.

Perbedaan tersebut bukan berarti seseorang lebih berhasil dan yang lainnya gagal. Setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, serta tantangan yang tidak selalu sama.

Sering kali, kita hanya melihat hasil akhir dari perjalanan seseorang tanpa mengetahui apa saja yang telah dilaluinya. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui berapa banyak kegagalan dan pengorbanan yang mungkin pernah terjadi.

Karena itu, membandingkan pencapaian tanpa memahami proses di baliknya merupakan sesuatu yang kurang tepat.

Kita perlu menyadari bahwa kehidupan bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang mencapai tujuan pada waktu yang bersamaan. Ada hal-hal yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan tidak semua proses dapat dipaksakan untuk berjalan sesuai dengan keinginan.

Bagaimana Cara Menghadapi Perasaan Tertinggal?

Menghilangkan kebiasaan membandingkan diri mungkin bukan sesuatu yang mudah. Terlebih ketika lingkungan sekitar terus memperlihatkan berbagai pencapaian yang belum kita miliki. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar perasaan tersebut tidak terus-menerus memengaruhi kehidupan.

Pertama, mulai mengurangi kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Ketika melihat keberhasilan seseorang, cobalah untuk menjadikannya sebagai motivasi, bukan alasan untuk merendahkan kemampuan sendiri.

Kedua, lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Jika terlalu sering melihat konten tertentu membuat kita merasa tidak nyaman, tidak ada salahnya membatasi waktu penggunaan media sosial. Kita juga perlu lebih selektif dalam memilih informasi yang dikonsumsi setiap hari.

Ketiga, belajar menghargai pencapaian diri sendiri. Tidak semua keberhasilan harus berupa pekerjaan dengan penghasilan tinggi, memiliki banyak uang, atau mencapai sesuatu yang besar. Berhasil melewati masa sulit, menyelesaikan tanggung jawab, dan tetap berusaha meskipun keadaan tidak mudah juga merupakan bagian dari perkembangan diri.

Keempat, menetapkan tujuan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan pribadi. Jangan sampai seluruh keputusan dalam hidup hanya didasarkan pada keinginan untuk menyamai pencapaian orang lain. Penting untuk memahami apa yang benar-benar ingin dicapai dan mengapa hal tersebut berarti bagi diri sendiri.

Terakhir, memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berkembang. Tidak semua hal harus diselesaikan dalam waktu singkat. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, mengevaluasi keadaan, dan mempersiapkan langkah berikutnya.

Jika perasaan tertinggal sudah menimbulkan tekanan emosional yang berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terpercaya maupun tenaga profesional juga merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.

Tidak Harus Selalu Lebih Cepat untuk Bisa Berhasil

Pada akhirnya, merasa tertinggal dari orang lain merupakan pengalaman yang dapat dialami oleh siapa saja. Perasaan tersebut sering muncul ketika kita terlalu berfokus pada pencapaian orang lain hingga lupa memperhatikan perkembangan diri sendiri.

Kita perlu memahami bahwa kehidupan setiap orang tidak berjalan dengan cara yang sama. Ada yang menemukan keberhasilan lebih awal, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai hal yang diinginkan.

Tidak ada salahnya memiliki keinginan untuk berkembang dan mencapai sesuatu yang lebih baik. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita terus-menerus merasa kurang berharga hanya karena belum berada di posisi yang sama dengan orang lain.

Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuannya, tetapi juga tentang bagaimana ia menjalani setiap proses yang ada di dalamnya.

Jadi, jika saat ini kita masih berusaha menemukan arah kehidupan, belum mencapai target yang diharapkan, atau masih berjuang menyelesaikan berbagai persoalan, bukan berarti kita gagal.

Mungkin kita hanya sedang berada dalam proses yang berbeda. Dan selama masih ada kemauan untuk belajar, berkembang, serta memperbaiki diri, perjalanan tersebut tetap memiliki arti.

Tidak perlu terburu-buru mengejar kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupan sendiri. Sebab, setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk tumbuh dan menemukan keberhasilannya.

Referensi

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014

Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222. https://doi.org/10.1037/ppm0000047

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *