Anda disini: M Jurnal » Wordpress » Cara Setting LiteSpeed Cache WordPress Untuk Dasar SEO

Cara Setting LiteSpeed Cache WordPress Untuk Dasar SEO

Plugin LiteSpeed Cache merupakan pesaing dari W3 Total Cache. Namun jika Anda mengikuti Panduan Saya dari BAB Pertama, tentu Anda tahu kenapa plugin LiteSpeed Cache lebih cocok untuk sebagian Website WordPress di Indonesia (terutama pada Panduan ini).

Seperti yang sudah Saya bahas sebelumnya, Cache merupakan salah satu optimasi Dasar SEO. Dengan mengaktifkan Cache, Anda bisa meningkatkan Kecepatan Loading Website.

Saya sudah uji coba plugin LiteSpeed Cache (LCache) ini pada Website WordPress yang di hosting pada salah satu layanan host Indonesia. Hasilnya cukup bagus dari pada Saya menggunakan Plugin W3 Total Cache, WP Super Cache dll.

Namun, Anda wajib tahu cara setting terbaik untuk plugin LiteSpeed Cache ini. Karena jika salah setting, Website Anda bisa saja tidak optimal malahan menjadi lambat, bahkan juga sering terjadi permasalahan yang serius. Untuk itu, silahkan simak Panduan Setting Plugin LiteSpeed Cache berikut:

Note: Jika Anda tidak ingin setting lanjutan untuk Plugin LiteSpeed Cache, silahkan lewati saja panduan ini. Anda hanya perlu aktifkan plugini ini saja. Karena setting default saja sudah cukup bagus untuk mengoptimalkan dasar SEO WordPress Anda.

Kenapa Plugin LiteSpeed Cache Lebih Baik ?

Jika Anda menyerahkan urusan caching Website WordPress menggunakan Plugin LiteSpeed Cache, Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan berikut:

  1. Proses Caching lebih cepat karena Full Page Caching dilakukan di Level Server.
  2. HTTP/2 Push
  3. Database Optimization
  4. Edge Side Includes (ESI)
  5. CSS JavaScript / HTML Minification dan Combination
  6. Support Browser Cache
  7. Object Cache with Redis
  8. Lazy Load Image dan Image Optimization
  9. Masih banyak fitur canggih lainnya.

Note: Plugin ini Saya rekomendasikan karena pada awal Panduan ini Saya merekomendasikan menggunakan layanan Host yang menggunakan Server LiteSpeed. Jika Anda menggunakan server berbeda, Anda bisa mempertimbangkan untuk menggunakan plugin lain seperti W3 Total Cache dll.

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache

Sebelum Anda setting plugin LiteSpeed Cache, terlebih dahulu pastikan plugin tersebut sudah aktif. Ya sebelumnya kita sudah belajar cara mengaktifkan Plugin WordPress.

Untuk pertama ini, Saya rekomendasikan untuk setting 5 bagian yang paling penting untuk kualitas SEO Website WordPress Anda.

Setting Cache

Setelah plugin LCache aktif, maka menu LiteSpeed Cache akan muncul pada Dashboard WP Anda. Untuk Setting Cache silahkan klik Menu LiteSpeed Cache > Cache. Anda akan menemukan berbagai macam Tab Setting disana seperti gambar berikut:

Setting Cache Plugin LiteSpeed Cache WordPress

Tab Setting ini memiliki fungsinya masing-masing. Secara default, plugin LCache akan mengaktifkan beberapa setting yang penting menurut mereka. Namun, ada beberapa point yang harus Anda perhatikan untuk meningkatkan kualitas SEO Website WordPress Anda.

Saya akan jelaskan dan optimalkan beberapa bagian yang paling penting saja.

#1 Setting Cache

Setting Cache untuk Dasar SEO WordPress

Secara default, Plugin LiteSpeed Cache akan mengaktifkan Enable Cache, Cache Logged-in Users, Cache Commenters, Cache REST API, Cache Login Page, Cache Favicon.ico, dan Cache PHP Resources.

Sementara itu, untuk Cache Mobile hanya bisa aktif jika Anda menggunakan AMP Version / Mobile-Specific Design/Content.

Note: Meskipun Tampilan Website Anda sendiri responsive (menyesuaikan ketika diakses melalui PC dan Mobile), Caching ini tetap tidak bisa Anda gunakan.

Untuk Fitur AMP akan Saya bahas pada Optimasi SEO Lanjutan. Sekarang kita harus Fokus untuk dasar terlebih dahulu.

Saya jelaskan sedikit tentang fitur Caching default yang sudah aktif ini.

  1. Enable Cache berguna untuk mengaktifkan atau non-aktifkan fitur cache di Website Anda. Jika Anda non-aktifkan, maka semua fitur Cache tidak akan aktif.
  2. Cache Loged-in Users berguna untuk memberikan cache bagi user yang login ke website Anda. Termasuk Anda sendiri sebagai Administrator Website. Secara umum, bagian ini penting untuk meningkatkan loading web ketika Anda memasuki halaman yang diwajibkan untuk login seperti dashboard WP.
  3. Commenters merupakan cache untuk pengguna yang meninggalkan komentar pada Website Anda. Mengaktifkan cache ini berguna jika Anda menerapkan moderasi semua komentar.
  4. REST API merupakan cache untuk request yang dilakukan oleh WordPress REST API. Jika Anda tidak mengaktifkan REST API, maka menon-aktifkan atau aktifkan cache ini tidak akan berpengaruh. Namun jika Anda menggunakan API, maka mengaktifkan cache ini akan memberi waktu loading yang lebih cepat.
  5. Cache Login Page berguna untuk memberikan cache pada halaman login. Saya sendiri tidak menemukan alasan yang tepat menon-aktifkan cache ini.
  6. Cache Favicon.ico akan digunakan oleh semua pengguna website Anda. Jika Anda belum tahu apa itu Favicon, silahkan kunjungi Panduan Template WordPress
  7. Cache PHP Resources berguna untuk mengoptimalkan resources PHP yang digunakan oleh Thema / template WordPress. Resource yang dimaksud adalah CSS atau JavaScript yang dimuat melalui PHP.

#2 Setting TTL

Setting TTL untuk WordPress

Pada bagian ini Anda bisa mengatur berapa lama Cache akan Expire. TTL sendiri merupakan singkatan dari Time to Live. Cara kerja nya adalah LiteSpeed Cache akan menyimpan cache sebuah halaman hingga batas TTL (Expire).

Ketika cache sebuah halaman sudah mencapai Expire, Plugin LSpeed Cache akan menghapus halaman tersebut dari cache (istilah lainnya “Purge Cache”).

Kemudian, plugin kembali membuat cache untuk versi (terbaru) dari halaman tersebut.

  1. Public Cache TTL merupakan cache untuk halaman yang bersifat public. Tips dari Saya, Jika Website WordPress Anda memiliki halaman yang sering berubah (seperti halaman Forum M Jurnal), maka lebih baik isi bagian ini dengan value yang lebih rendah.
  2. Private Cache TTL merupakan cache untuk halaman yang bersifat private seperti membutuhkan login. Biarkan saja secara default.
  3. Front Page TTL merupakan cache khusus untuk halaman depan. Misalnya Front Page M Jurnal adalah https://mjurnal.com. Tips dari Saya: Gunakan TTL yang lebih singkat. Kenapa ? Karena Front Page akan menjadi halaman yang sering di update.
  4. Feed TTL merupakan cache khusus untuk feed. Saran saya biarkan saja bagian ini dengan settingan default.
  5. REST TTL merupakan cache khusus REST API (berguna jika Anda menggunakan REST API. Saran Saya jika Anda tidak menggunakannya, biarkan saja menggunakan Setting default.
  6. Sementara itu biarkan saja default untuk HTTP Status Code Page TTL

Note: Semakin kecil value TTL, akan semakin cepat cache dihapus. Kemudian Plugin akan membuat cache untuk versi terbaru.

Setting Image Optimization

Anda bisa mengoptimalkan Image menggunakan Image Optimization. Fitur sangat berguna jika Website WordPress Anda menggunakan banyak gambar.

Namun, tetap juga bisa mengoptimalkan meskipun gambar pada Website Anda tidak terlalu banyak.

Untuk setting Image Optimization silahkan klik Menu LiteSpeed Cache > Image Optimization. Kemudian pilih Tab Image Optimization Settings seperti gambar berikut:

Setting Image Optimizations Plugin LiteSpeed Cache untuk Dasar SEO WordPress

Selanjutnya silahkan aktifkan beberapa fitur yang bisa meningkatkan page load website Anda. Silahkan aktifkan 3 fitur ini saja:

  1. Auto Request Cron
  2. Auto Pull Cron
  3. Optimize Losslessly
  4. Create WebP Versions (Ada Resiko nya)
  5. Image WebP Replacement (Ada Resikonya)

Note: Jika Anda mengaktifkan Create WebP Versions, maka plugin akan secara otomatis membuat salinan gambar yang Anda upload ke versi .webp.

Tentu saja hal ini akan menambah jumlah pemakaian space hosting meskipun tidak besar.

Jika space hosting Anda masih kecil (< 4GB), Saya sarankan tidak mengaktifkan fitur ini. Nanti setelah Website Anda berkembang dan Anda memiliki space hosting yang lebih besar, silahkan pertimbangkan menggunakan fitur ini.

Setting Page Optimization

Silahkan klik menu LiteSpeed Cache > Page Optomization. Pada bagian ini, Saya hanya rekomendasikan setting CSS saja.

Untuk setting lain seperti JS Settings, Optimization, Media Settings, Media Excludes, Localization, dan Tuning biarkan saja menggunakan setting default.

Karena mengubah setting-an pada bagian tersebut membutuhkan pengetahuan teknis. Ada kala nya setting-an tidak sesuai dengan yang Anda harapkan. Oleh karena itu, biarkan saja menggunakan setting default. Nanti akan Saya bahas lebih lanjut pada BAB SEO Lanjutan.

Sekarang fokur pada Pada Tab CSS. Silahkan aktifkan beberapa fitur berikut:

  • CSS Minify
  • CSS HTTP/2 Push
  • Inline CSS Async Lib

ToolBox

Setelah Anda mengubah Setting CSS pada Page Optimization, silahkan Purge All Cache agar setting tersebut mulai dijalankan dengan baik oleh plugin.

Silahkan pilih menu LiteSpeed Cache > Toolbox. Kemudian fokus pada Tab Purge. Klik Purge All seperti gambar berikut:

Purge All Cache pada Plugin LiteSpeed Cache WordPress

Sampai disini, setting dasar SEO untuk Plugin LiteSpeed Cache sudah selesai. Sebetulnya masih banyak yang harus Anda pelajari dan bisa dimanfaatkan pada Plugin ini.

Namun, pelan-pelan saja belajarnya. Saya akan berikan Panduan Lanjutan pada BAB SEO Lanjutan.

Lalu apa Selanjutnya ? Selanjutnya Saya bahas Panduan tentang Setting Search Console (Khususnya Search Console Google). Bagian ini penting agar semua konten Anda bisa muncul di halaman pertama pencarian google.

Silahkan gunakan Pintasan Panduan berikut untuk mempelajari Semua Tentang Dasar SEO & Analytic. Atau kunjungi Pusat Panduan WordPress M Jurnal untuk mempelajari Semua Tentang WordPress.

Pintasan Panduan Plugin dan Dasar SEO WordPress

  1. Permalink: Setting dan Optimasi Permalink WordPress terbaik. Jangan salah pilih !
  2. Plugin: Mengenal Plugin, Cara instal dan rekomendasi plugin yang harus ada di Website WordPress Anda.
  3. Setting SEO: Setting Dasar SEO dan Semua Plugin Terlebih dahulu sebelum Anda membuat Sebuah Artikel / Laman / Konten Lainnya.
  4. Cache: (Anda Disini).
  5. Setting Search Console: Wajib Setting Search Console agar Website Anda bisa muncul di hasil pencarian Google / Bing.
  6. Setting Google Analytics: Setting Analytic untuk analisa pengunjung (Viewers) website Anda. Hasilnya bisa Anda gunakan untuk mengevaluasi dan mengembangkan Website untuk kedepannya.

Komentar Paling Lambat di Balas Pukul 23:59 :)