Anda disini: M Jurnal » Skripsi » Cara Menghitung Risk Portofolio Optimal (Variance, Alpha, Beta dan Unsystematic Risk)

Cara Menghitung Risk Portofolio Optimal (Variance, Alpha, Beta dan Unsystematic Risk)

Pada Sub Bab sebelumnya, Anda sudah belajar cara menghitung return portofolio optimal. Pada Sub Bab ini, Anda akan belajar cara menghitung Risk Portofolio Optimal, yaitu Variance, Alpha, Beta dan Unsystematic Risk.

Jangan sampai lewatkan tahap demi tahap panduan ini. Anda bisa lihat pintasan panduan pada akhir artikel ini.

Menghitung Variance – Risk Portofolio Optimal

Dalam analisis portofolio optimal, variance digunakan untuk  mengukur tingkat risiko dari expected return. Nilai variance hanya ada 1 untuk masing-masing emiten, market dan risk free.

Secara manual, hitung variance menggunakan data Ri, E(R), dan n.

Keterangan:
Ri = Return saham i
E(R) = Expected return
n = Jumlah periode actual return saham i

Sedangkan pada excel, hitung variance menggunakan fungsi VAR.P. Caranya, ketik =VAR.P(blok_data_actual_return). Sebagai contoh, perhatikan gambar berikut:

risk portofolio optimal - Variance, Alpha, Beta, dan Unsystematic Risk
  1. Pertama, contoh menghitung variance AALI. Ketik Fungsi =VAR.P(O8:O139) pada Cell O141.
  2. Kedua, Gunakan Fitur AutoFill Excel untuk menghitung Variance emiten lainnya, IHSG dan Risk Free dengan cepat (Klik-Tahan-Tarik). Atau Anda juga bisa ketik Fungsi secara manual (prosesnya lebih lama).

Jika Anda menggunakan cara manual, maka Fungsi VAR.P emiten lain seperti berikut:

Ads

BBNI pada cell P141 =VAR.P(P8: P139)
BDMN pada cell Q141 =VAR.P(Q8:Q139)

Perhatikan, Range Data pada Rumus (P8: P139 dan Q8:Q139) sesuai dengan nama kolom pada masing-masing Emiten. Silahkan sesuaikan range dengan data Anda dan hitung Variance untuk semua emiten, market dan risk free.

Insight: Teori Capital Asset Pricing Model

Menghitung Nilai Alpha

Alpha (α) digunakan untuk mengetahui intercept dari hubungan linier antara actual return saham i dengan actual return market (IHSG). Selanjutnya, Anda dapat menggunakan Alpha untuk  menghitung Variance Error (ei). Secara manual, hitung Alpha menggunakan data Ri, βi, dan Rm

Keterangan:
Ri = Return saham i
βi = Beta saham i
Rm = Return Market (dalam hal ini return IHSG)

Sedangkan pada excel, hitung Alpha menggunakan fungsi INTERCEPT. Caranya ketik =INTERCEPT(blok_data_variabel_x;blok_data_variabel_y).

Note: Variabel X adalah Actual Return Saham Individual (semua periode). Sedangkan Variabel Y adalah Actual Return Market (semua periode).

Hitung nilai Alpha untuk setiap emiten saja. Sementara nilai Alpha market udah pasti 0.

Ads

Anda juga bisa menggunakan fitur AutoFill Excel. Tapi… variabel y hanya ada 1 yaitu actual return IHSG. Jadi Anda harus menggunakan reference absolute (sisipkan simbol $) di antara reference range actual return IHSG. Perhatikan contoh berikut:

Menghitung Alpha Saham
  1. Pertama, contoh menghitung Alpha AALI. Ketik fungsi =INTERCEPT(O8:O139;$Z8:$Z139) pada Cell O142. Range O8:O139 adalah data actual return saham AALI. Sedangkan Range $Z8:$Z139 adalah data actual return market (IHSG). Perhatikan! Saya menyisipkan Simbol $ sebelum nama kolom ($Z8 dan $Z139). Tujuannya untuk mengunci kolom Z dan mempermudah AutoFill Excel.
  2. Kedua, lakukan AutoFill Excel untuk menghitung Alpha emiten lainnya atau gunakan cara manual.

Jika Anda menggunakan AutoFill Excel, maka fungsi INTERCEPT untuk Emiten lainnya seperti berikut:

BBNI pada cell P142 =INTERCEPT(P8: P139;$Z8:$Z139)
BDMN pada cell Q142 =INTERCEPT(Q8:Q139;$Z8:$Z139)

Penting! Jika Anda belum begitu paham penggunaan absolute reference, silahkan pelajari Panduan Cell Reference Excel

Anda bisa lihat sendiri, fungsi hanya berubah pada Cell Variable X (Tanda kuning). Sedangkan Range untuk Variabel Y tetap sama.

Menghitung Beta Saham – Risk Portofolio Optimal

Beta digunakan untuk  mengetahui slope dari hubungan linier antara actual return saham i dengan actual return pasar (IHSG). Dengan kata lain, Beta dapat disebut juga sebagai indikator pengukur risiko sistematis (risiko yang tidak dapat di-diversifikasi) melalui pembentukan portofolio.

Naah, dalam hal ini, Anda dapat menggunakan Beta sebagai pengukur risiko dalam portofolio. Secara manual, βi di hitung menggunakan data σim dan σm.

Ketarangan:
βi = Beta Saham i
σim = Kovarian atau standar deviasi saham i dan pasar
σm = Standar deviasi pasar

Sedangkan pada excel, Beta dapat di hitung menggunakan fungsi SLOPE. Caranya ketik =SLOPE(blok_data_variabel_x;blok_data_variabel_y).

Sama dengan Alpha, beta juga menggunakan variabel x dan y yang sama dan hanya dihitung untuk setiap emiten saja. Jika di hitung untuk market, udah pasti hasilnya = 1. Perhatikan contoh:

risk portofolio optimal - Variance, Alpha, Beta, dan Unsystematic Risk
  1. Pertama, hitung Beta AALI. Ketik fungsi =SLOPE(O8:O139;$Z8:$Z139) pada Cell O143. Saya juga menggunakan Nilai Absolut untuk memudahkan AutoFill.
  2. Kedua, lakukan AutoFill yang sama seperti menghitung Alpha. Perubahan fungsi excel hanya terjadi pada Range O8:O139 menjadi P8: P139 menjadi Q8:Q139 dst. Sesuai kolom masing-masing emiten.

Menghitung Unsystematic Risk Saham

Unsystematic Risk (Resiko tidak sistematis) disebut juga dengan Variance Error Residual. Secara manual, unsystematic risk dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

ei = βi2 x σ2m + σ2i

Ketarangan:
ei = Variance Error atau Unsystematic Risk
βi = Beta saham i
σ2m = Variance Market
σ2i = Variance saham i

Sementara itu, Excel tidak menyediakan Fungsi khusus untuk menghitung Unsystematic Risk (Resiko tidak sistematis). Jadi Anda harus menulis rumusnya sendiri. Perhatikan contoh berikut:

risk portofolio optimal - Variance, Alpha, Beta, dan Unsystematic Risk
  1. Pertama, Contoh menghitung ei Emiten AALI. Ketik rumus =O143^2*$Z141+O141 pada Cell O144. Tanda ^2 sama dengan pangkat 2. Saya juga menyisipkan nilai Absolut pada cell variance market $Z141
  2. Ketiga, lakukan AutoFill Excel untuk menghitung ei Emiten lainnya.

Penting! Jika Anda belum benar-benar tahu cara menghitung pangkat di Excel, silahkan kunjungi Panduan Rumus Akar dan Pangkat Excel.

Selanjutnya, hitung Risk Free (Excess Return dan Expected Excess Return dari Risk Free).

Pintasan Panduan Olah Data Skripsi Portofolio Optimal

  1. Data & Tabulasi: Persiapan dan Tabulasi Data untuk mempermudah proses analisis Serta Download Contoh Soal
  2. Return: Menghitung Actual Return dan Expected Return masing-masing emiten, market dan risk free.
  3. Risk: (Anda Disini)
  4. Risk Free: Menghitung Excess Return dan Expected Excess Return dari Risk Free
  5. Ai, Bi, dan Ci: Menghitung nilai Ai, Bi, Ci dan Excess Return to Beta (ERB)
  6. Optimal: Mengurutkan Emiten berdasarkan ERB, Menghitung Cut of Point dan Menentukan Emiten yang masuk kedalam Portofolio Optimal
  7. Pembobotan: Menghitung Zi, Wi, Alpha Portofolio, Beta Portofolio, dan Unsystematic Risk Portofolio Optimal.
  8. SIM or CAPM ?: Menghitung Single Index Model (SIM) dan Capital Asset Pricing Model (CAPM) lalu memahami hasilnya

Apakah Panduan ini Membantu Menyelesaikan Permasalahan Anda ?

Rolan Mardani

Traktir Saya secangkir kopi supaya kuat begadang untuk membuat konten-konten Panduan yang berkualitas dan membantu menyelesaikan permasalahan Anda.

Bantu Orang Lain... Share Panduan ini:

10 tanggapan pada “Cara Menghitung Risk Portofolio Optimal (Variance, Alpha, Beta dan Unsystematic Risk)”

  1. Dewi Aprilia Maharani

    oh begitu ya kak, tapi dalam menghitung risiko individual itu bisa pakai var.s atau stdev. s kah kak? kalau aku mau nya bentuk persen pakai stdev kak? soalnya aku bingung bedanya var dan stdev itu apa kak dalam menentukan risiko individualnya

    1. Saya belum pernah dengar mengukur Risiko investasi dalam satuan Persentase.
      Mungkin ada cara nya… Tapi sekarang Saya belum tahu hahahaha…
      Saya kasih tahu apa yang udah Saya tahu aja ya…
      Variance itu akar dari standar deviasi. Atau Standar Deviasi = Variance pangkat 2.
      Ga perlu bingung milih, pilih salah satu aja. Kegunaannya sama kok.
      Saya milih variance karena hasil rumus nya di pake buat perhitungan selanjutnya.

      Dalam investasi, variance dan standar deviasi sama-sama bisa digunakan untuk mengukur TINGKAT risiko (bukan dalam persentase).
      Kenapa ? Karena pada dasarnya, variance dan standar deviasi bukan diperuntukkan khusus untuk mengukur risiko investasi. Ini hanya salah satu metode untuk mengukur tingkat risiko investasi aja.
      Terus metode lainnya apa ? Salah satunya lagi Beta, juga bisa buat ngukur tingkat risiko investasi.

      Oh ya, var.p dan var.s itu beda rumus ngitungnya kak. Begitu juga dengan stdev.p dan stdev.s
      Saran Saya, coba kakak pahami dahulu bagaimana proses perhitungan standar deviasi itu.
      Saya juga ada menulis Panduan Rumus Standar Deviasi (Klik Disini)
      Di panduan itu juga Saya jelaskan perbedaan Rumus stdev.p dan stdev.s di Excel.

      1. Dewi Aprilia Maharani

        kalau kata kk, “Secara manual, hitung variance menggunakan data Ri, E(R), dan n.” untuk perhitungan manualnya bagaimana kak, bila sudah ada data nya? apakah di buku hartono yg rumus SD tpi untuk variannya tinggal di pangkatkan 2 bkn kak? jdi SD^2 kah… soalnya aku yg di excel di sruh nulis rumus manualnya huhuhuhu aku bingung disini juga kak hehehe

        1. Variance^2 = Standar Deviasi
          Bukan SD^2 kak

          Saya masih belum ngerti maksud kakak nih..
          Kakak mau buat hitungan manual untuk rumus apa ? SD atau variance ?

        1. Standar Deviasi kak ? Caranya hampir sama dengan variance. Beda nya cuma di Rumus nya aja.
          Variance pake =VAR.P atau =VAR.S. Kalo Standar Deviasi pake =STDEV.P( atau =STDEV.S(
          Coba lihat Detail tentang cara menggunakan Rumus STDEV.P dan STDEV.S di Panduan Standar Deviasi Excel

          1. Dewi Aprilia Maharani

            kak kalau untuk rumus var.p itu sendiri kalau manual di risiko bagaimana kak bentuknya?

          2. Maksudnya bentuk apa kak ?
            Interpretasi (cara baca) nya maksud kak Dewi ?
            Kalo iya,, gini cara bacanya..
            Variance ini bukan dalam satuan persen.
            Misalnya variance 0,0158 bukan berarti risiko saham itu 1,5%.
            Semakin tinggi nilai variance, maka semakin besar resiko nya. Semakin kecil, maka semakin rendah pula risiko nya.
            Coba lihat variance Risk Free (Rf) = 0,0000
            Ini udah jelas karena Risk Free = Instrument investasi bebas risiko / hampir tidak ada risiko.
            Terus lihat variance IHSG = 0,0039
            Ini lebih besar dari Risk Free, tapi memang begitu, karena investasi di pasar modal bisa memberikan keuntungan lebih tinggi dengan resiko yang lebih besar pula.

Komentar Paling Lambat di Balas Pukul 23:59 :)